Menyusui memang menjadi momen yang istimewa bagi ibu dan bayi. Namun, di balik prosesnya, ada beberapa tantangan yang bisa membuat ibu merasa tidak nyaman, salah satunya mastitis.
Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang cukup sering terjadi pada ibu menyusui dalam 6 minggu pertama setelah melahirkan. Kondisi ini dapat membuat payudara terasa bengkak, nyeri, hangat, bahkan disertai demam dan tubuh menggigil. Tidak jarang, gejalanya membuat ibu khawatir dan bertanya-tanya apakah tetap boleh menyusui.
lantas, bagaimana cara mengatasinya? Yuk, kenali lebih lanjut.
Apa Itu Mastitis?
Apa Penyebab Mastitis pada Ibu Menyusui?
| Faktor Risiko / Penyebab | Mekanisme | Cara Mengatasinya |
| Perlekatan (latch) tidak tepat | Bayi tidak mengosongkan payudara secara efektif → tekanan intraduktal meningkat → inflamasi | Konsultasi konsultan laktasi; evaluasi posisi menyusui |
| Jadwal menyusui tidak teratur / melewatkan sesi | Jeda panjang → payudara penuh → peningkatan tekanan → bocor ke jaringan | Menyusui on-demand; jika melewatkan sesi, pompa untuk kenyamanan |
| Engorgement/bendungan ASI yang tidak tertangani | Tekanan tinggi dalam duktus → komponen susu masuk jaringan → respons inflamasi | Kompres dingin, menyusui sering, hindari overpumping |
| Puting lecet atau terluka | Luka terbuka = jalur masuk bakteri ke jaringan payudara | Evaluasi latch, lanolin setelah menyusui, biarkan kering sebelum menutup bra |
| Penekanan payudara dari luar | Bra ketat, sabuk pengaman, tidur tengkurap → kompresi duktus → aliran ASI terhambat | Gunakan bra menyusui yang pas, hindari tekanan langsung pada payudara |
| Overpumping / pemerah berlebihan | Merangsang produksi berlebih → siklus engorgement → risiko mastitis meningkat | Pompa hanya untuk kenyamanan, bukan hingga ‘kosong total’ |
| Stres dan kelelahan ekstrem | Menurunkan imunitas → bakteri lebih mudah berkembang jika ada pintu masuk | Prioritaskan istirahat, minta bantuan pasangan/keluarga |
| Riwayat mastitis sebelumnya | Jaringan parut dari episode sebelumnya dapat mengganggu aliran ASI | Evaluasi ulang teknik menyusui bersama konsultan laktasi |
Gejala Mastitis yang Perlu Dikenali
| Gejala | Karakteristik | Perlu Waspada Jika |
| Bengkak & nyeri payudara | Biasanya terlokalisir di satu kuadran payudara, bukan seluruh payudara; nyeri saat disentuh atau saat menyusui | Bengkak menyebar, semakin besar, atau muncul benjolan berfluktuasi (lunak) |
| Kemerahan (eritema) | Area merah yang terbatas jelas, hangat saat disentuh; bisa berbentuk baji/wedge sesuai segmen payudara | Kemerahan menyebar cepat dalam beberapa jam — waspadai selulitis |
| Demam | Demam ≥38,5°C, sering tiba-tiba dan cepat naik | Demam >38,5°C yang tidak turun dalam 12–24 jam dengan perawatan mandiri |
| Gejala flu sistemik | Menggigil, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan berat — sering muncul lebih dulu dari gejala payudara | Gejala sistemik berat tanpa respons terhadap istirahat dan cairan |
| Perubahan pada ASI | ASI mungkin terasa lebih asin sementara (normal, aman untuk bayi) | Keluar cairan kental kuning/hijau dari puting (nanah) → segera ke dokter |
| Nyeri saat menyusui | Menyusui terasa lebih nyeri dari biasanya di sisi yang terkena | Nyeri yang sangat berat hingga tidak bisa menyusui sama sekali |
Mastitis vs Saluran ASI Tersumbat vs Abses: Cara Membedakan
| Parameter | Saluran ASI Tersumbat / Peradangan Lokal | Mastitis | Abses Payudara |
| Onset | Bertahap, beberapa hari | Cepat, 12–24 jam | Setelah mastitis tidak tertangani (5–10 hari) |
| Gejala lokal | Benjolan keras terlokalisir, nyeri tekan | Kemerahan luas, hangat, bengkak | Benjolan berfluktuasi (lunak di tengah), sangat nyeri |
| Gejala sistemik | Tidak ada atau sangat ringan | Demam ≥38,5°C, menggigil, gejala flu | Demam persisten meski sudah antibiotik |
| Respon antibiotik | Tidak diperlukan | Ya — jika infeksius atau tidak membaik 12–24 jam | Antibiotik + aspirasi/drainase diperlukan |
| Menyusui | Lanjutkan normal | Lanjutkan — sangat dianjurkan | Lanjutkan dari payudara sehat; sisi terkena sesuai kondisi |
| Penanganan | Lanjutkan menyusui, kompres dingin, hindari pijat kuat | Antibiotik jika indikasi, NSAID, istirahat, cairan | Drainase (aspirasi jarum atau insisi bedah) + antibiotik |
Apakah Ibu dengan Mastitis Masih Boleh Menyusui?
Yang Boleh Dilakukan Saat Mastitis
- Menyusui sesuai kebutuhan bayi — on-demand, dari kedua payudara termasuk yang terkena mastitis
- Memerah ASI secukupnya — jika bayi tidak bisa menyusu langsung atau untuk kenyamanan ibu; tidak perlu ‘mengosongkan’ sampai habis
- Berganti posisi menyusui — mencoba berbagai posisi agar drainase berbeda segmen payudara lebih optimal
- Konsultasi konsultan laktasi — untuk evaluasi latch dan teknik menyusui yang lebih efektif
Yang TIDAK Boleh Dilakukan Saat Mastitis
- Menghentikan menyusui mendadak — meningkatkan tekanan, memperburuk inflamasi, risiko abses naik
- Memijat payudara dengan kuat — memperburuk peradangan jaringan, bukan membantu ‘melancarkan’
- Overpumping / memerah berlebihan — merangsang produksi berlebih dan memperparah siklus engorgement
- Mengompres dengan panas berlebihan — dapat memperburuk pembengkakan; kompres hangat singkat sebelum menyusui boleh, kompres dingin lebih disarankan antar sesi
| 💡 Fact: Komponen ASI—termasuk faktor imun dan bakteri komensal normal—tidak berbahaya bagi bayi meski payudara mengalami mastitis. Penelitian menunjukkan bayi yang terus menyusu saat mastitis memiliki risiko lebih rendah terkena infeksi saluran cerna dibanding bayi yang diberikan sufor sementara. |
Cara Mengatasi Mastitis di Rumah: Panduan Berbasis ABM 2022
- Lanjutkan Menyusui Sesuai Kebutuhan Bayi. Menyusui adalah langkah terpenting dalam manajemen mastitis. Susui bayi on-demand dari kedua payudara. Jika bayi tidak mau menyusu dari sisi yang sakit, coba berbagai posisi berbeda. Pompa dengan lembut jika diperlukan—hanya untuk kenyamanan, bukan untuk ‘mengosongkan’.
- Kompres Dingin Antar Sesi Menyusui. Kompres dingin (ice pack yang dibungkus kain tipis, atau kol dingin dari kulkas) selama 10–15 menit setelah menyusui terbukti lebih efektif mengurangi inflamasi dan nyeri dibanding kompres hangat. Hindari kompres panas yang terlalu lama—dapat memperburuk pembengkakan pada beberapa ibu.
- Konsumsi NSAID untuk Nyeri dan Demam. Ibuprofen adalah pilihan utama—bersifat anti-inflamasi sekaligus analgesik dan antipiretik. Aman untuk ibu menyusui dalam dosis terapeutik (400–600 mg setiap 6–8 jam sesuai kebutuhan). Paracetamol bisa digunakan untuk demam jika ada kontraindikasi ibuprofen.
- Istirahat dan Hidrasi yang Cukup. Inflamasi sistemik membutuhkan energi tubuh yang besar. Prioritaskan istirahat—minta bantuan pasangan atau keluarga untuk mengurus rumah dan bayi agar ibu bisa beristirahat. Minum cairan yang cukup, terutama air putih. Kehilangan cairan akibat demam dan produksi ASI perlu dikompensasi.
- Evaluasi Perlekatan dan Teknik Menyusui. Mastitis yang berulang atau tidak membaik sering berkaitan dengan masalah latch yang belum terselesaikan. Konsultasi dengan konselor laktasi dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan solusi jangka panjang.
- Konsultasikan ke Dokter Jika Tidak Membaik dalam 12–24 Jam. Mastitis yang tidak respons terhadap perawatan mandiri dalam 12–24 jam, atau yang disertai gejala sistemik berat, membutuhkan evaluasi dokter untuk pertimbangan antibiotik. Jangan menunda—penanganan tepat waktu mencegah berkembang menjadi abses.
Cara Mencegah Mastitis Saat Menyusui
- Menyusui on-demand (sesuai permintaan bayi) — jangan terlalu kaku menjadwalkan sesi menyusui
- Pastikan perlekatan (latch) bayi tepat sejak hari pertama — cari bantuan bidan/konsultan laktasi jika ragu
- Tangani engorgement/bendungan ASI segera — menyusui lebih sering atau pompa untuk kenyamanan (bukan hingga kosong)
- Rawat puting lecet, evaluasi latch
- Hindari bra terlalu ketat
- Hindari tidur terngkurap jika payudara masih besar dan penuh
- Hindari overpompa
- Istirahat cukup dan kelola stres
- Jika mastitis berulang (lebih dari 2–3 episode), konsulltasikan dengan konselor laktasi untuk evaluasi teknik menyusui secara menyeuruh
Kapan Harus Segera ke Dokter?
| Segera ke dokter jika demam tidak turun setelah 12–24 jam perawatan mandiri, gejala semakin berat, muncul benjolan yang terasa lunak dan berfluktuasi, keluar cairan bernanah, atau kondisi umum memburuk. Jangan tunda—penanganan dini mencegah mastitis berkembang menjadi abses. |
Referensi
Mitchell KB, et al. Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022. Breastfeeding Medicine. 2022;17(5):360–376. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35576513/
World Health Organization. Mastitis: Causes and Management. WHO/FCH/CAH/00.13. 2000. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-FCH-CAH-00.13
Morcomb EF, et al. Mastitis: Rapid Evidence Review. American Family Physician. 2024;110(2):174–182. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2024/0800/mastitis.html
American College of Obstetricians and Gynecologists. Breastfeeding Challenges. Committee Opinion No. 820. 2021. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2021/02/breastfeeding-challenges
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Mastitis: Pencegahan dan Penanganan. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan

